Berita dan Pengumuman
Quo Vadis Zillenial Muslim?
- Di Publikasikan Pada: 23 Jun 2025
- Oleh: IMM UMSurabaya

Penulis : Rafif Burhanuddin Muhammad
Zillenial Hari ini
Zillenial atau Gen Z, terkhusus di Indonesia sekarang ini selalu dielu-elukan kehadirannya. Seperti benih-benih yang dipersiapkan betul sebelum ditanam, dipupuk hingga nantinya dipanen raya di Indonesia Emas 2045. Gen Z tumbuh berkembang dengan kecakapan beradaptasi dengan arus teknologi, hingga kecerdasan Gen Z yang mengungguli generasi-generasi sebelumnya, priviliege smartphone di genggam tangan mereka membuat semua serba mudah untuk mengakses informasi dunia digital dan hidup berdampingan dengan algoritma sosial media, Instagram, Tiktok, ChatGPT, AI.
Terlepas dari itu, ada hal yang perlu diperhatikan, bahwasannya hadirnya Gen Z ini, lahir ketika berada di persimpangan laju pesatnya teknologi. Sedihnya, dibalik eluh-eluh kemajuan itu, muncul masalah baru di tubuh Gen Z. Gen Z malah tumbuh menjadi generasi yang rapuh. Kasus-kasus anxiety dan depresi menjalar, isu-isu mental health[1], FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa cemas merasa ketertinggalan sesuatu yang baru atau yang viral, hingga masalah fisik Gen Z yang lebih lemah. Kondisi ini sama seperti digambarkan Surah An-Nisa ayat 9 :
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan/generasi yang lemah setelah mereka yang khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.” (An-Nisa 9)
Kondisi lemahnya generasi diisyaratkan dalam Al-Quran dengan kata ‘dha’if”, “dhi’afan.” Sama seperti hari ini kelemahan-kelamahan mulai bermunculan di tubuh dan alam pikiran Zillenial ini. Sehingga akibatnya muncul rasa “yakhsya” atau kekhawatiran kepada generasi ini. Dan dengan kondisi yang mengkhawatirkan ini timbul pertanyaan, “Quo vadis?” atau “akan pergi kemana generasi ini?” atau pertanyaan yang lebih dalam lagi “akan dibawa ke arah mana generasi ini?” Dan saya lebih khawatir jikalau Gen Z yang terlalu dielu-elukan ini menjadi tunas-tunas yang gagal tumbuh dan gagal panen di kemudian hari.
Dapat dikatakan Gen Z saat ini ‘bisa dibilang’ masih pubertas dan terombang-ambing dalam simpang kemajuan zaman baru ini. Situasi seperti ini, bagi generasi sebelumnya memang tidak dirasakan. Generasi Pra-Gen Z belumlah cakap mengenal isu-isu sedemikian ini, sehingga mereka terlambat menemukan obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit yang menjangkit generasi baru ini. Maka yakhsya atau rasa takut dan khawatir meninggalkan generasi lemah dalam surah An-Nisa tadi tidak melulu difahami sebagai generasi tua yang takut generasi setelahnya menjadi lemah, namun rasa yakhsya itu juga harus disadari bagi generasi yang mengalaminya. Karena tidak bisa menggantungkan penyelesaian masalah ini pada generasi sebelumnya yang jelas berbeda sekali zamannya dan akan berbeda pula ¬treatment-nya. Maka mau tidak mau menjadi tugas kita, para generasi lemah ini, untuk sadar dan mampu mendeteksi diri, ke-dhaif-an sendiri, sadar akan penyakitnyanya sendiri, dan mampu menyembuhkan penyakit itu tanpa harus menunggu disembuhkan generasi sebelumnya.
Lebih dalam lagi timbul pertanyaan, bagaimana kondisi Gen Z atau Zillenial yang muslim? Syahdan, apakah mereka generasi baru Islam ini juga terjangkit penyakit zaman yang sama? Lalu apa akar masalahnya? apakah Islam zaman masih mampu memberi solusi mujarab untuk menyembuhkan krisis generasi zaman ini? Dan quo vadis (kemana perginya) Zillenial muslim? Dan mau dikemanakan Zillenial muslim ini? Lalu apa saja ke-dhaif-an Gen Z hari ini? Beberapa diantaranya :
1. FOMO dan Sensasi Hype
Zillenial tumbuh menjadi generasi yang terobsesi akan keterbaruan atau hype. Anak-anak ini selalu penasaran dan mencoba membiasakan diri dengan teknologi terbaru. Memang menjadi sifat mereka yang terus menerus mencari sesuatu yang paling hype dan viral. Tiktok sudah hampir 3 tahun ini meningkat drastis menjadi platform yang paling digandrungi Gen Z , karena di dalamnya ada hype dan viral. Sensasi mendapat viral yang lebih cepat dalam algoritma Tiktok inilah yang membuat Gen Z lebih suka menggandrunginya. Sehingga platform yang kurang hype akan tergerus dan ditinggalkan oleh Gen Z, sebut saja Facebook dan Twitter yang juga mulai menurun penggunanya, terutama sejak Elon Musk mengubahnya menjadi X. karena klaim Gen Z platform itu sudah tidak lagi cocok dengan tren dan hype terbaru mereka. Bahkan platform yang kalah saing itu mulai meniru-niru algoritma dan scrolling video seperti Tiktok untuk berebut hype Gen Z.
Imbas dari sensasi mengejar hype ini, Gen Z tumbuh dengan terjangkit kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa cemas ketika ketinggalan tren terbaru. Gen Z akan malu jika dirinya tidak hype dibanding yang lain[2]. Sehingga terbentuk dalam pola pikir mereka budaya dan obsesi untuk selalu mengejar hype terbaru, mengikuti tren keviralan, berlomba memperbanyak follower, like, popularitas hingga hasrat untuk terkenal. Dan sebalinya, Gen Z merasa pesimis jika tidak ikut arus hype tersebut. Makin hari arus ini sulit untuk dibendung. Semua seperti candu.
Budaya mengejar keviralan tumbuh mempengaruhi dan pola pikir Gen Z dalam segala hal dalam hidupnya. Bahkan demi viral dan mengundang banyak perhatian hukum syariat pun rela mereka tabrak. Ambil saja contoh konten tidak senonoh Oklin Fia yang berhijab ketat menjilat es krim dengan gaya erotis, atau komika yang mencandai ayat-ayat Al-Quran, adalah bukti mereka menghalalkan segala cara agar menjadi viral. Sehingga viral menjadi standar yang dikejar Gen Z ini. Apapun caranya supaya dapat viral. Sehingga viral menjadi ‘standar kebenaran’. Sesuatu hal yang salah pun, jikalau itu viral maka itulah yang mereka anggap benar. Bahkan banyak dijumpai muslimah yang lepas hijab karena terinspirasi oleh selebgram yang tidak berhijab yang ia anggap sebagai standar kecantikan yang sedang hype hari ini. Semua seperti permainan siapa yang lebih bisa menarik perhatian maka ialah yang menang. Apapun caranya.
Dalam lingkungan kampus banyak kita temui. Mahasiswa banyak yang ikut-ikutan kegiatan dan organisasi yang sebenarnya ia sendiri tidak berkenan mengikutinya, hanya dengan alasan takut menjadi ‘yang tertinggal’. Saya juga mengkritisi, seperti beberapa mahasiswa hari ini yang merasa tidak keren jika tidak belajar faham kiri hingga seorang yang kiri hanya untuk ikut-ikutan, juga mereka yang selalu mengedepankan berpikir bebas dan seorang yang pluralis tanpa mengetahui seluk beluk pemikirannya juga termasuk ke-FOMO-an di lingkungan kampus. Maka dari situ muncul kesimpulan bagi mereka, kalau mahasiswa belajar filsafat yang hype di lingkungan mahasiswa lebih menarik dibanding belajar tajwid ‘yang tidak terlalu hype’. Sehingga muncul generasi yang serius mempelajari ilmu-ilmu filsafat, ingin menjadi musisi, belajar dance hinngga belajar bahasa Korea karena kecintaan pada yang mereka idolakan,
Sosial media, didukung algoritma hari ini selalu menuruti hal-hal yang disenangi pengguna platform, dan algoritma akan terus merekomendasikan konten yang sedang hype agar mereka mau mengikutinya. Tentu saja, ketika pengguna cenderung melihat hiburan, maka algoritma akan lebih merekomendasikan hiburan, dan akan sulit sekali algoritma merekomendasikan kajian-kajian keilmuan dan keIslaman karena hype-nya kecil sekali. Dan faktanya, jika kita lihat explore Instagram dan isi algoritma fyp (for your page) Tiktok kita hari ke harinya dipenuhi konten-konten influencer, travelling, gosip terbaru, berita selebgram, pamer pencapaian sukses, OOTD (Outfit of the day) dan semua yang berbau hiburan akan terus direkomendasikan algoritma. Juga semua orang bisa berbicara semaunya meski bukan ahlinya. Anak remaja yang membahas tentang konspirasi Covid-19, Illuminati, Komunisme, Robot AI akan menguasai dunia, yang notabene membicarakan yang bukan bidang keahliannya[3]. Juga mahasiswa yang bermodal dalil sosial media ikut-ikutan mendiskusikan kanan-kiri politik bangsa ini, Semua itu tidak salah, namun jika dibandingkan ketika mereka diajak mengaji ‘yang notabene hal yang mendasar sekali bagi seorang muslim’, tajwid dan bacaan mereka masih terbata-bata, mereka juga berdalih kesulitan karena tidak ada lingkungan yang tepat, guru yang hadir, seakan mereka menafikan bahwa semua itu bisa mereka akses seperti mereka menggandrung hype mereka dengan cara yang sama. Sedihnya hal-hal seperti ini mulai sering kita jumpai di tubuh kader ikatan juga. Hasil ini muncul karena Gen Z selalu mengejar hype. Mengaji, belajar agama bukanlah hype bagi mereka. Sehingga standar nilai yang dikejar disini adalah seberapa hype yang mereka kerjakan. Inilah yang disebut dengan Taqlidisme modern.
Islam akan selalu kalah branding jika dibandingkan hal-hal viral hari ini. Meski beberapa tahun lalu ada fenomena tren hijrah, namun tren tersebut cepat surut dan sekarang sudah tidak lagi terdengar karena tergantikan dengan hype terbaru. Dan Islam hari ini tidak menjadi minat untuk di-FOMO-I Gen Z hari ini.
Ditambah Barat hari ke hari selalu menggembor-gemborkan dan mencoba mem-branding bahwa tren Barat atau Western hari ini ialah yang paling hype dan paling maju, maka dengan sendirinya Islam hari ini akan menjadi ketinggalan zaman karena tidak ditemukannya hype di dalamnya. Hal ini benar-benar menjadi tantangan eksistensi Islam. Maka tidak kaget jika kita jumpai, seorang muslim yang berfikir jika ia malu dan tidak perlu memamerkan keIslamannya karena Islam hari ini berarti ketinggalan zaman dan tidak lagi hype. Dan sedihnya, banyak Gen Z hari ini yang mengiyakan begitu saja dan sedikit-sedikit mulai meninggalkan keIslamannya. Pesimistis dengan Islam. Mereka menjadi orang Islam yang meninggalkan Islamnya sendiri. Orang Islam tanpa Islam.
2. Terjebak Standar Framing Westernisasi
Dibalik gemerlapnya arus sosial media, di awal saya mencoba bersikap netral, menanggapi kemajuan zaman yang ada ini. Apa salahnya kita selalu update hal-hal viral terbaru? Kenapa kita terlalu sensi pada mereka yang viral dan terkenal di sosial media? Namun, lama-kelamaan jika kita cermat menelaah, hype-hype yang berkembang hari ini ternyata cenderung berefek negatif pada generasi muda ini. Terutama generasi Z muslim.
Sosial media hari ini tentu tidak bisa ‘bebas nilai’. Tidak bisa lepas dari pengaruh ideologi dan pemikiran di balik layarnya. Mau tidak mau kita harus menyadari fakta akan adanya usaha framing Barat atau Westernisasi untuk menjadikan semua mau menerima dan mengikuti kultur Barat. Dan itulah sekarang mereka jadikan hype. Maka dengan kata lain umat muslim terkhusus Gen Z juga akan menjadi korban framing itu dan mulai melepas identitas agamanya, kultur keIslamannya hanya karena telah ter-framing di alam pikirannya kalau menjadi kebarat-baratan berarti ‘benar’, karena banyak orang yang mendapat hype jika mereka persis meniru-niru budaya Barat, termasuk pemikirannya, kebebasannya, gaya fashion-nya, hingga kekufurannya. Sulit sekali untuk membendung situasi ini di zaman ini. Maka Rasulullah pernah mewanti-wanti akan datangnya situasi ini dalam haditsnya:
“Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.” Kami bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR Musim – Shahih)
Rasul jauh-jauh hari memberi waspada akan datanngnya era ini. Umat Islam hari ini terutama nak mudanya seperti terombang-ambing mengikuti arus yang dibuat oleh umat lain. Semua itu seperti arus yang begitu deras yang di dalamnya Gen Z Muslim mau tidak mau sekali tercebur di dalamnya akan langsung terhanyut terpengaruh pola pikirnya.
Maka tidak heran, jika dari arus-arus tersebut, karena tidak memiliki filter yang memadai untuk menyaring, maka jangan heran jika ada anak muda yang mengaku muslim tapi ia berbangga bilang saya muslim dan saya liberal. Beberapa yang lain mengatakan, agar negeri ini maju maka perlu adanya sekularisasi ilmu pengetahuan. Juga argumen, jangan bawa-bawa Islam di kancah politik, Islam tempatnya ya di masjid. Atau mereka yang menggaung-gaungkan Islam bukan agama yang paling benar, agama-agama yang lain pun juga mengajarkan kebenaran, sehingga semua agama di mata Tuhan itu sama[4]. Beberapa dari mereka juga membolehkan LGBT atas dasar kemanusiaan. Mungkin mengelak, dan bergelak tawa mendengar ini, tapi memang itu yang sedang terjadi di tubuh generasi muda Islam hari ini. Indikasi penyakit pada pemikiran mereka tak jauh dari SIPILIS (Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme) yang merupakan produk dari Barat untuk melemahkan umat Islam. Perilaku kebarat-baratan ini sebut saja ‘Tasyabbuh Modern’.
Pengaruh Barat benar-benar luar biasa, karena penjajahan mereka hari ini bukan lagi berbentuk imperialisme seperti di abad 19-20, namun upaya mereka hari ini dengan perlahan membentuk pola pikir yang mem-Barat-kan siapapun yang bukan Barat. Dan memberi cap buruk bagi siapa saja, kultur di mana saja, agama apa saja yang tidak mengikuti budaya dan pemikiran Barat. Semua ini adalah hasil dari efek westernisasi budaya Barat yang perlahan tapi pasti meracuni pemikiran muslim di zaman ini.
Virus ini cepat sekali menyebar di tubuh muslimin. Gen Z lah yang menjadi mangsa empuk karena bersinggungan langsung dengan media dan teknologi yang didesain oleh Barat, sehingga mudah saja untuk mengontrol mereka. Sekularisasi ilmu juga mulai terlihat di lingkungan universitas dengan memisahkan ilmu-ilmu agama dan ilmu umum menjadi dua golongan yang berbeda dan tidak bisa disangkutkan. Tersekularisasikan. Tentu saja, hal ini berimbas kepada mahasiswa dan penuntut ilmu yang terpolarisasi menjadi golongan yang belajar ilmu umum dan golongan ilmu agama. Padahal yang seharusnya ilmu umum tidak bisa dilepaskan bebas dari ilmu agama, pun sebaliknya. Seakan-akan ilmu harus dipisahkan dengan urusan iman. Intelektualitas diadu Religiusitas. Bukankah banyak terjadi kekacauan hari ini karena ilmu kemajuan teknologi hari ini lepas bebas tanpa kendali yang justru menjadi membahayakan, seperti nuklir, senjata biologi, dll.
Maka, kekhawatiran hari ini kepada Gen Z adalah ketidaktahuan mendeteksi adanya ancaman pemikiran di balik sosial media mereka. Di satu sisi semakin berbahayanya Westernisasi yang terjadi, di sisi lain Gen Z yang semakin tidak berminat mendalami ilmu agama mereka sendiri. Sehingga hari ke hari semakin keruh dan sulit mencari solusi yang mujarab menghadapi tantangan ini. Semua seperti terjebak ke dalam lubang yang tidak mereka ketahui sebelumnya.
Quo Vadis Zillenial Muslim?
Maka, mau dikemanakan? Quo vadis zillenial muslim hari ini? Sebelum melangkah jauh mengarahkan kemana Gen Z muslim ini, perlu kita refleksi diri. Kenapa Gen Z muslim hari ini seperti tidak kemana-mana dan kehilangan arah. Adapun beberapa faktor yang melatarbelakanginya:
1) Cara pertama untuk mengobati untuk mengobati penyakit yang mendera generasi muda sekarang ini, langkah pertama yang mesti dilakukan adalah dengan menumbuhkan kesadaran untuk mendeteksi apa jenis penyakitnya. Penyakit-penyakit seperti SIPILIS atau Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme perlu difahami sedari awal. Bagaimana mungkin kita menangkal dan berteriak-teriak memajukan peradaban Islam dengan bermodal kembali ke Al-Quran dan Sunnah saja. Tentu, itu penting. Namun, tentu tidak akan pernah cukup berhenti disitu. maka perlunya berIslam secara spiritual dan diimbangi dengan berIslam secara intelektual. Sehingga perlunya internalisasi pemahaman kepada Gen Z pentingnya berIslam level intelektual agar terhindar dari bahayanya ideologi-ideologi yang tidak tersaring di alam pikiran Gen Z muslim[5].
2) Cara yang kedua adalah pola sikap umat Islam menanggapi apa yang datang dari Barat. Umat Islam hari ini terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bingung menyikapi. Beberapa dari kelompok muslim yang anti dan menolak mentah-mentah apa yang datang dari Barat, hingga menghukuminya sesat bagi siapapun yang mempelajarinya. Kelompok ini yang hanya berhenti dan hanya mengkritik kejamnya. Mereka yang berhenti dan hanya mengutuk Barat, dengan propaganda mereka, efek sosial media mereka yang berakibat merusak generasi muda muslim. Beberapa yang lain menerima mentah-mentah tanpa pandang bulu. Semua yang dari Barat dianggap sebagai suatu kemajuan yang benar.
Namun dari kedua kutub tersebut, saya lebih menyarankan agar muslimin mampu mencoba membuka diri dan adil dengan menimbang-nimbang ilmu dari Barat mana yang baik dan yang buruk. Karena hikmah adalah harta milik mukmin yang hilang. Namun, seorang muslim tidaklah mungkin menemukan hikmah yang hilang itu kecuali ia mengetahui apa itu hikmah. Maka seorang muslim semestinya sanggup menemukan hikmah miliknya yang hilang itu di balik ilmu apapun. Bahkan bisa saja hikmah itu tersembunyi di dalam ilmu-ilmu dan pemikiran Barat yang notabene di cap peradaban kufur hari ini. Maka muslimin mau tidak mau untuk bergelut mendalami ilmu yang bukan dari ¬wisdom-nya itu untuk mencari hikmah-hikmah yang terkandung.
Muslimin di zaman lalu, bukanlah umat yang asing mempelajari ilmu-ilmu luar yang bukan berasal dari local wisdom-nya. Berabad-abad lalu, muslimin mengambil ilmu dari peradaban filsafat Yunani, mempelajari ilmu matematika India hingga Persia, tanpa harus kehilangan identitasnya tergerus. Dan tugas muslim hari ini salah satunya adalah menemukan peluang tantangan itu dan mengejar ketertinggalan. Bahkan wajib memiliki obsesi maju mengungguli yang lain, menyaingi hype dan tren mereka Karena kemajuan Islam itulah yang kelak membawa rahmatan lil’alamin
Maka dari itu, jika ditanya harus dikemanakan atau Quo vadis Gen Z muslim hari ini? Maka generasi baru ini harus diarahkan untuk senantiasa tertanam ketakwaan dan nilai spiritual dalam hati dan pikirannya sehingga tidak mudah tergerus pokok keyakinannya. Serta mereka yang mentransformasikan ilmu dan kemajuan terkini dengan wisdom Islamnya sendiri, apapun kondisi yang menderanya, tanpa harus malu melepas identitasnya sebagai seorang muslim. Singkatnya, Gen Z muslim hari ini haruslah berIslam secara spiritual hingga Intelektual.